UTAH — Lebih dari separuh mahasiswa sarjana mengaku kerap merasa tidak berdaya dan frustrasi ketika memikirkan dampak perubahan iklim. Namun, dukungan untuk membantu mereka mengatasi kecemasan tersebut dinilai masih terbatas.
"Mereka tidak sendirian. Banyak mahasiswa merasakan hal yang sama, dan kemungkinan banyak orang dewasa juga mengalaminya," kata dosen Departemen Lingkungan, Masyarakat, dan Keberlanjutan University of Utah, Jennifer Follstad Shah, dikutip dari Phys.org, Rabu (4/11/2026) lalu.
Temuan tersebut berasal dari penelitian lintas disiplin yang dipimpin Follstad Shah. Tim peneliti menyurvei 547 mahasiswa University of Utah untuk mengetahui respons emosional mereka terhadap perubahan iklim serta faktor-faktor yang memengaruhi perasaan tersebut.
Hasilnya, sebanyak 54 persen responden mengaku sering atau sangat sering merasa tidak berdaya akibat perubahan iklim. Sementara itu, 55 persen mengatakan mereka kerap merasa frustrasi.
Sebaliknya, hanya empat persen responden yang mengaku sangat berharap terhadap masa depan bumi. Meski demikian, jika seluruh kategori jawaban diperhitungkan, sekitar 40 persen mahasiswa masih merasakan harapan, setidaknya pada tingkat tertentu.
Penelitian tersebut juga menemukan mahasiswa dengan tingkat kecemasan umum lebih tinggi cenderung mengalami kecemasan iklim yang lebih besar. Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara keduanya.
"Meski demikian, kecemasan terkait perubahan iklim mungkin menjadi salah satu faktor yang memicu kecemasan umum, begitu pula sebaliknya," kata Follstad Shah.
Mahasiswa yang mengambil program studi lingkungan melaporkan kecemasan iklim lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dari jurusan lain, meskipun tingkat kecemasan umum mereka relatif serupa. Namun, perbedaan jurusan tidak lagi menjadi faktor yang signifikan setelah peneliti memperhitungkan sejumlah variabel lain.
Faktor-faktor tersebut meliputi frekuensi mahasiswa menerima informasi tentang perubahan iklim, pandangan mereka terhadap isu tersebut sebagai persoalan pribadi, serta orientasi politik.
Mahasiswa yang menganggap perubahan iklim sebagai persoalan pribadi dan memiliki pandangan politik lebih liberal cenderung melaporkan kecemasan iklim lebih tinggi. Paparan informasi mengenai perubahan iklim melalui kegiatan perkuliahan dan internet juga berkaitan dengan tingkat kecemasan. Sebaliknya, informasi yang diperoleh dari teman, keluarga, dan rekan kerja tidak menunjukkan hubungan serupa.
Temuan ini melengkapi penelitian sebelumnya yang dipimpin dosen psikologi University of Utah, Monika Lohani. Penelitian tersebut mengkaji berbagai cara mahasiswa mengelola kecemasan terhadap perubahan iklim.
Hasilnya menunjukkan mahasiswa merasa lebih tenang ketika menghabiskan waktu di alam, berkumpul bersama teman, atau bermain dengan hewan peliharaan. Mereka juga melakukan perawatan diri, mengubah perilaku sehari-hari, serta memperdalam pengetahuan tentang perubahan iklim untuk mengurangi tekanan emosional.