Ekonomi

KAI Siapkan KRL Green Line 12 Kereta, Tinggal Tunggu Daya Listrik

KAI Siapkan KRL Green Line 12 Kereta, Tinggal Tunggu Daya Listrik

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah menyiapkan skema penambahan kapasitas angkut untuk Jabodetabek lintas Tanah Abang-Rangkasbitung (Green Line). Salah satu langkah utamanya adalah memperpanjang rangkaian kereta (Stamformasi/SF) dari yang selama ini didominasi SF 8 dan SF 10 menjadi SF 12.

VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa pihak prasarana telah mempersiapkan stasiun untuk menunjang peningkatan kapasitas angkut tersebut. Namun, kecukupan daya Listrik Aliran Atas (LAA) masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

"Iya, listriknya harus ditambah. Kalau dari sisi prasarana stasiunnya, sudah bertahap kita lakukan. Tapi ini adalah kebutuhan listrik di LAA," kata Anne, dikutip Rabu (4/11/2026).

Sebelumnya, terdapat dua kendala utama yang membuat KRL SF 12 belum bisa melayani jalur Green Line. Pertama, panjang peron stasiun yang belum menunjang. Kedua, kapasitas daya LAA yang belum mampu menopang kebutuhan 12 kereta dalam satu rangkaian.

Anne menjelaskan, kesiapan peron kini sudah tidak menjadi masalah karena uji coba SF 12 telah dilakukan di beberapa stasiun lintas Tanah Abang-Rangkasbitung. Sementara untuk pemenuhan daya LAA, KAI akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

"Peronnya sudah. Kita kemarin sudah uji coba di beberapa stasiun. Nanti kita koordinasikan sama DJKA," tuturnya.

Tidak Bisa Sembarangan Tambah Gerbong

Langkah perpanjangan rangkaian ini dilakukan untuk mengurangi tingkat kepadatan penumpang yang sangat tinggi sekaligus meningkatkan daya angkut di salah satu jalur KRL tersibuk tersebut.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa penambahan gerbong tidak bisa dilakukan secara spontan tanpa perbaikan infrastruktur pendukung.

"Tidak bisa secara otomatis tambah rangkaian. Sekarang kapasitas listriknya kita naikkan, sinyalnya kita perbaiki," ujar Bobby saat berdiskusi dengan awak media, dikutip Kamis (9/7/2026).

Bobby menyebut, peningkatan layanan di jalur Rangkasbitung menjadi salah satu prioritas utama KAI. Perusahaan menargetkan perbaikan sarana dan prasarana pendukung, seperti pasokan listrik dan sistem persinyalan, dapat diselesaikan dalam waktu 6 hingga 8 bulan ke depan.

Kepadatan Penumpang Capai 8 Orang per Meter Persegi

Kebutuhan akan perpanjangan rangkaian ini makin mendesak mengingat kondisi keterbatasan kapasitas KRL Rangkasbitung saat ini yang hanya dioperasikan 8 hingga 10 gerbong.

"Saya amati Rangkas Line atau Green Line ini satu meter persegi isinya 8 orang," ungkap Bobby.

Menurutnya, tingginya tingkat kepadatan ini dipicu oleh keterbatasan jumlah gerbong serta belum optimalnya kondisi sarana-prasarana pendukung.

Pangkas Waktu Tunggu Antarkereta

Selain menambah jumlah kereta menjadi SF 12, KAI juga berencana memangkas waktu tunggu (headway) atau jarak kedatangan antarkereta. Saat ini, waktu tunggu KRL di jalur Rangkasbitung masih berkisar antara 10 hingga 15 menit.

Dengan peningkatan infrastruktur persinyalan dan pasokan listrik yang baru, waktu tunggu diharapkan bisa diperpendek secara signifikan.

"Sekarang jarak antar-kereta itu 10-15 menit. Nanti kita akan pendekkan jaraknya. Sekarang keretanya cuma 8-10 rangkaian, nanti semua akan menjadi 12," kata Bobby.