JAKARTA – Insiden peretasan pada bursa kripto global kembali menguji kepercayaan investor terhadap keamanan aset digital. Dampaknya turut tercermin pada pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum yang melemah, di tengah tekanan sentimen pasar dan perubahan arus dana investor.
Berdasarkan laporan Reuters yang dipublikasikan melalui ThePrint pada 30 Oktober 2026, insiden tersebut mengakibatkan pencurian aset kripto senilai sekitar 6,3 miliar dolar AS. Sekitar 3 miliar dolar AS aset dilaporkan berhasil dibekukan melalui koordinasi dengan penerbit stablecoin dan mitra industri blockchain.
Dalam laporan tersebut, Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 3 persen ke level 76.469 dolar AS. Sementara itu, Ethereum melemah lebih dari 3 persen ke kisaran 2.185 dolar AS.
Tekanan harga masih terlihat pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Berdasarkan data CoinMarketCap yang dikutip dalam keterangan Bittime, Bitcoin berada di kisaran 77.014 dolar AS, melemah 1,86 persen dalam 24 jam dan 3,90 persen dalam sepekan.
Ethereum juga tercatat di kisaran 2.253 dolar AS, turun 1,70 persen dalam 24 jam dan 2,99 persen dalam sepekan. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan masih berlangsung di pasar aset kripto.
Dampak insiden keamanan juga terlihat dari perubahan arus dana investor. Mengutip Reuters pada 2 November 2026, penarikan dana pelanggan dari platform yang terdampak mencapai 3,64 miliar dolar AS atau sekitar 2,1 persen dari total asetnya, meskipun arus penarikan mulai stabil dan belum menunjukkan kepanikan secara luas.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menilai insiden keamanan pada platform perdagangan global dapat memengaruhi sentimen investor, terutama terkait kepercayaan terhadap keamanan dan perlindungan aset. Namun, kondisi setiap platform tidak dapat disamakan karena memiliki infrastruktur dan mekanisme pengelolaan risiko yang berbeda.
“Insiden keamanan pada platform perdagangan aset kripto di luar negeri berpotensi memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek, terutama terkait kepercayaan terhadap keamanan platform dan perlindungan aset pengguna. Namun, setiap platform memiliki infrastruktur, sistem keamanan, dan mekanisme pengelolaan risiko yang berbeda. Oleh karena itu, suatu insiden tidak serta-merta mencerminkan kondisi keamanan seluruh industri kripto,” ujar Ryan dalam siaran pers, Rabu (4/11/2026).
Selain faktor keamanan, pergerakan Bitcoin dan Ethereum dipengaruhi kondisi makroekonomi global, kebijakan suku bunga, likuiditas, serta aktivitas perdagangan. Di pasar derivatif, volatilitas harga juga berpotensi memicu likuidasi posisi dengan leverage dan memperbesar tekanan dalam waktu singkat.
Ryan mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kepanikan akibat pemberitaan atau perubahan harga dalam jangka pendek. Pengelolaan risiko dan pemantauan perkembangan pasar dinilai tetap diperlukan dalam menghadapi volatilitas.
“Pasar kripto saat ini masih dipengaruhi berbagai faktor yang dapat meningkatkan volatilitas. Pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya tidak hanya ditentukan oleh satu peristiwa, tetapi juga kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, likuiditas pasar, dan aktivitas perdagangan. Karena itu, investor perlu tetap tenang, mencermati perkembangan pasar, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” jelas Ryan.
Memasuki akhir 2026, prospek pasar kripto masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, regulasi, dan tingkat adopsi aset digital. Data ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Di sisi lain, adopsi institusional dan inovasi teknologi blockchain dinilai masih berpotensi mendukung perkembangan industri. Karena itu, koreksi harga akibat sentimen negatif tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental permintaan aset digital dalam jangka panjang.
Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang menyediakan layanan perdagangan Spot, Staking, dan Futures, menilai investor perlu mempertimbangkan fundamental aset, tujuan investasi, serta profil risiko sebelum mengambil keputusan. Perusahaan juga menyatakan terus memperkuat sistem keamanan dan perlindungan aset pelanggan.
Ryan mengatakan keamanan dan perlindungan konsumen perlu menjadi prioritas pelaku industri seiring perkembangan ekosistem aset digital. Menurut dia, penguatan sistem keamanan diperlukan untuk menjaga kepercayaan pengguna.