Politik

Usung Cara Kolaboratif, Perhutani Pulihkan Lahan di Blok Artapela

Usung Cara Kolaboratif, Perhutani Pulihkan Lahan di Blok Artapela

BANDUNG -- Upaya rehabilitasi lahan kritis di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum menjadi menjadi prioritas Perhutani. Langkah itu sangat penting untuk mengembalikan fungsi hidrologis sekaligus mengurangi risiko bencana akibat kerusakan alam.

Blok Artapela di Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menjadi salah satu target pemulihan Perhutani bersama pihak terkait. Kawasan yang masuk hulu DAS Citarum itu luasannya mencapai 4.007,55 hektare. Sebanyak 2.146,18 hektare masuk kawasan hutan.

Aksi nyata rehabilitasi lahan kritis di area Bandung Selatan itu dipimpin Direktur Utama Perum Perhutani Tio Handoko bersama Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten Yudha Suswardhanto yang melakukan peninjauan langsung ke area Blok Artapela, Rabu (4/12/2026).

Hadir juga Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Dodit Ardian Pancapana, Ketua Forum Pembela Hutan Jawa (FPHJ), Eka Santosa, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Nasional, Nace Permana, Ketua LMDH Jawa Barat, Daud, Satgas Citarum Harum, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), anggota Jaga Leweung, serta masyarakat desa sekitar.

Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan lokasi tanaman dan rencana penanaman tahun 2026 di kawasan Blok Artapela. Agenda dilanjutkan dengan diskusi bersama petani penggarap di Pos Pengamanan Blok Artapela serta pertemuan dengan para stakeholder di kawasan Situ Cisanti untuk memperkuat sinergi dan menyelaraskan langkah penanganan kawasan.

"Perhutani berkomitmen menyelamatkan hutan Blok Artapela melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan hutan yang bersinergi dengan segenap stakeholder. Upaya ini diharapkan mampu mewujudkan keseimbangan antara kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat desa hutan," kata Direktur Utama Perum Perhutani, Tio Handoko.

Dirinya mengatakan, pemulihan lahan kritis tentunya selaras dengan komitmen Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang memiliki target menghijaukan hutan Tanah Pasundan ini. Sejalan dengan hal tersebut, Perhutani juga mendorong pengembangan potensi bisnis karbon sebagai bagian dari penguatan nilai ekonomi kawasan hutan.

"Sehingga manfaat ekologis dan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan. Selanjutnya juga akan dikembangkan Project Carbon Blok Artapela dengan skema ARR yang dimulai dengan penyusunan Dokumen Rencana Aksi dan Mitigasi (DRAM) Blok Artapela," ungkap Tio.

Dalam pemulihan lahan kritis melalui pengembangan tanaman hutan di kawasan hulu DAS Sungai Citarum, tentunya akan disesuaikan dengan kondisi topografi, hidrologis dan solum lahan. Ketiga faktor ini saling mempengaruhi dan menentukan tingkat kesuburan, drainase serta kesesuaian peruntukan lahan.

Keitga faktot itu menurut Tio bisa menghasilkan kondisi ideal yang mampu menyeimbangkan keberlanjutan ekologi dan keuntungan ekonomi bagi masyarakat di kawasan hulu DAS Citarum.

"Saya meminta tim saya kesesuaian lahan dulu. Dari topografi, hidrologis sampe solum tanah yang paling cocok apa. Di situ tumbuh eukaliptus, artinya untuk pohon-pohon keras lainnya bisa. Rasamala khasnya Jawa Barat, jati bahkan kalau aren bisa kita senang sekali," ujar Tio.

Sementara itu Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten, Yudha Suswardhanto, menjelaskan Perhutani terus menyiapkan langkah penanganan lahan kritis melalui penanaman, penguatan pengamanan kawasan, dan pendampingan masyarakat.

"Pehutani memiliki wilayah kelola seluas 410,56 hektare di Blok Artapela. Sebagai bagian dari upaya penanganan lahan kritis, kami merencanakan penanaman seluas 97,44 hektare di tahun 2026, dilanjutkan pada tahun 2027 hingga tahun 2030," kata Yudha.

Penanaman akan dilaksanakan pada musim hujan dengan pola agroforestri, dengan rencana pengembangan tanaman pinus dan kopi. Perhutani mengajak masyarakat untuk bersama-sama berkomitmen dalam melakukan upaya pemilihan lahan kritis yang untuk mengembalikan fungsi ekologis, namun tetap bernilai ekonomi.

Yudha menegaskan, pemulihan lahan kritis di hulu DAS Citarum ini sangat penting karena memiliki peran ekologis sebagai kawasan tangkapan air dan penyangga keseimbangan lingkungan.

"Penanganan lahan kritis ini menjadi perhatian dan agenda prioritas guna mengembalikan fungsi hidrologis dan mencegah risiko bencana erosi atau sedimentasi serta mempercepat pemulihan ekosistem DAS Citarum secara berkelanjutan," katanya.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana, menekankan komitmen bersama agar direalisasikan melalui aksi nyata melalui kegiatan penanaman bersama di Blok Artapela yang bertepatan dengan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) pada tanggal 28 November 2026.

Selain penanaman, penguatan pengamanan terpadu bersama pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan kawasan. Pelibatan masyarakat melalui peran Jaga Leuweung juga didorong untuk mendukung pengawasan dan pembinaan kawasan hutan.

"Melalui sinergi multipihak, Perhutani berharap penanganan Blok Artapela dapat berjalan secara berkelanjutan, sekaligus memulihkan fungsi kawasan hutan," kata Dodit.