Liputan6.com, Jakarta - Selama 13 tahun terakhir, Rashid Ali menggantungkan hidupnya sebagai pengemudi di Lahore, kawasan timur . Harinya dimulai sejak pukul 06.00 pagi dan terkadang baru usai tengah malam. Biasanya, ia mampu mengantongi US$ 6,50 atau sekitar Rp 118.000 (kurs Rp 18.148 per US$), cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.
Namun, melonjaknya harga elpiji (liquefied petroleum gas/LPG) kini membuat pendapatannya terpangkas hingga kurang dari separuhnya.
Ali (33) adalah satu dari ribuan pengemudi di Pakistan yang mengandalkan bahan bakar LPG tabung, gas yang sejatinya lebih banyak digunakan untuk memasak dan pemanas ruangan.
Ketua Awami Rickshaw Union atau asosiasi becak motor Pakistan, Majeed Ghauri menyebut LPG selama ini menjadi bahan bakar rakyat miskin. Ia mengungkapkan, sekitar 70% dari total 43.000 bajaj milik anggotanya, serta hampir 8.000 Qingqi (kendaraan roda tiga berbasis sepeda motor penyedia rute tetap), menggantungkan operasionalnya pada LPG.
Para pedagang menyebut lonjakan harga LPG terjadi sejak 17 Oktober, menyusul penutupan dua pintu perbatasan Iran yang menghentikan pasokan impor. Ini menjadi guncangan energi terbaru sejak gejolak konflik AS-Iran bergolak Februari lalu.
Dengan pendapatan yang kini jarang menyentuh US$ 3 sehari, keluarga Ali harus mengencangkan sabuk pengaman. Mereka memotong porsi makan menjadi hanya dua kali sehari.
"Dulu saat LPG masih murah, kami bisa membawa pulang penghasilan yang layak," tutur Ali dikutip dari Channel News Asia, Rabu (4/11/2026).
"Sekarang, mana mungkin bisa bertahan hidup hanya dengan 700 atau 800 rupee?"
Pakistan Impor LPG dari Iran
Sebelum penutupan perbatasan, Pakistan mengimpor sekitar 7.000 metrik ton LPG per hari dari Iran, menurut data Pakistan LPG Association.
Pedagang setempat mengungkapkan, harga LPG tabung 12 kg melonjak hingga 56% hanya dalam kurun beberapa hari pascapenutupan perbatasan. Harganya menembus 7.000 rupee Pakistan (sekitar US$ 25,30) atau setara 583 rupee per kg di pasar terbuka.
Pemerintah Balochistan, provinsi selatan yang berbatasan langsung dengan Iran, berdalih penutupan dilakukan atas alasan keamanan dan penindakan penyelundupan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut adanya kendala teknis.
Duta Besar Iran belakangan menegaskan pihaknya tidak memberlakukan pembatasan ekspor LPG, dan menuding perubahan prosedur dokumen impor dari pihak Pakistan sebagai biang keroknya.
Penumpang Memilih Jalan Kaki
Masalah kian menumpuk karena para penumpang enggan membayar tarif yang lebih mahal. "Untuk rute yang seharusnya bertarif 200 atau 250 rupee, penumpang sering kali hanya mau bayar 80, 100, atau 150 rupee," keluh Ali.
Mohammad Ramzan, seorang penumpang, menceritakan pengalamannya ketika pengemudi menembak harga 500 rupee untuk sekali jalan di dalam kota. Ramzan hanya menawar separuhnya. Begitu pengemudi menolak, ia memilih berlalu dan berjalan kaki.
Inflasi di Pakistan sendiri menyentuh angka 9,6% pada Oktober. Bank sentral setempat pekan lalu menaikkan suku bunga menjadi 12% akibat lonjakan harga energi dan gandum. Bensin sempat mencatatkan rekor tertinggi di angka 458 rupee per liter pada 3 April, dan hingga kini harganya masih berada 40% di atas level sebelum krisis.
Saat pulang ke rumah pada siang hari, Ali teringat kedua putranya yang belum makan siang. Ia mengaku akan kembali menarik bajaj hingga larut malam, berharap bisa membawa pulang sedikit uang agar anak-anaknya tidak kelaparan di malam hari.